Melody Takdirku

Langit malam kota Surabaya tampak indah dihiasi percikan api berwarna-warni. Satu babak kehidupan sudah terlewati. Malam tahun baru yang meriah. Seluruh dunia merayakannya dengan suka cita. Semua orang mengirimkan harapan-harapannya ke langit. Menginginkan kehidupan yang lebih indah di tahun yang baru.          

Aku teringat belahan jiwaku yang sedang menjalankan tugas negara ke Lebanon. Menjadi pasukan perdamaian angkatan udaradari Indonesia. Ini tahun ke dua dia meninggalkanku. Rasa rindu padanya sudah tidak bisa lagi diukur. Tapi aku tidak mampu menembus ruang yang sangat luas untuk memeluknya. Hanya lewat doa ku kirimkan peluk dan cium.


 ‘’Jaga hati kamu selama aku bertugas, jangan nakal ya. Aku pergi demi pengabdianku pada negara dan aku akan kembali pulang demi kamu, cintaku’’ ucap Mas Sigit sebelum mengecup keningku.                 

‘’Aku akan menjaga hatiku sambil menanti kamu pulang. Pulanglah dengan sempurna tanpa kurang sedikit apapun, doaku menyertaimu’’ aku memeluknya erat, baju lorengnya basah oleh airmataku.              

Pesawat angkatan udara membawa prajuritku pergi dari sisiku. Aku bangga padanya, bangga dengan tugas mulianya. Aku berusaha ikhlas meskipun aku tahu resiko besar mengancam pujaan hatiku. Bayangan berada di madan perang, di tengah-tengah ledakan peluru musuh selalu menghantui pikiranku di awal kepergiannya. Namun hatiku yakin Mas Sigit akan kembali ke pelukanku sesuai dengan janjinya.              

Satu bulan lagi penantianku berakhir, akhir januari pesawat milik angkatan udara akan membawa Mas Sigit pulang ke Indonesia. Semakin dekat hari kepulangannya, aku menjadi cemas. Aku telah melakukan kesalahn besar. Aku telah menghianatinya. Rasanya terlalu kejam aku menyambut kepulangannya dengan penghianatan. Jantungku berdetak kencang, rasa cemasku semakin menjadi. Membayangkan apa yang akan terjadi ketika dia mengetahui kondisiku saat ini.              

Selama dua tahun hidupku berubah. Tepatnya setelah aku mengenal Roy. Aku dijadikan jaminan atas hutang-hutang ayahku kepada keluarga Roy. Aku dijodohkan dengan Roy untuk membayar lunas hutang orangtuaku. Demi keluargaku aku turuti perjanjian itu. Tidak punya daya untuk menolak karena uang pinjaman itu dipergunakan untuk membiayai kuliahku di fakultas kedokteran.              

Aku dan Roy berpacaran, kami berencana menikah setelah aku selesai kuliah. Tidak ada kebahagiaan yang aku rasakan selama menjalani hubungan itu. Batinku justru tersiksa menjalani hubungan dengan seseorang yang tidak aku cintai. Aku telah menghianati Mas Sigit, mengorbankan hatiku demi nilai mata uang tetapi juga demi masa depanku. Mungkin jika saat itu Mas Sigit mengetahui masalah ini, dia akan memilih mati di medan perang dari pada mati karena sakit dihianati.              

Hubungan itu membuatku hamil di luar pernikahan. Saat kandunganku berusia lima bulan, tanpa alasan Roy meninggalkanku. Sampai ketika bayiku lahir, tidak ada juga kabar darinya. Bayi perempuan cantik, aku beri nama Melody. Mulai saat itu sosok Roy tidak lagi ku harapkan pertanggungjawabannya. Aku menjadi orangtua tunggal untuk Melody. Sekarang Melody berumur enam bulan, senyumnya menjadi penghiburku saat aku merasa lelah dan kesepian.              

Hari kepulangan Mas Sigit tinggal menghitung jam. Rasa cintaku untuknya belum berkurang sedikitpun, meskipun posisinya di sisiku sempat tergantikan oleh Roy. Aku takut kehilangan dia setelah dia tahu apa yang telah terjadi.               

‘’Aku kembali padamu tanpa kurang sedikit apapun’’ Mas Sigit memelukku, pelukannya masih sama seperti dua tahun lalu saat dia meninggalkanku.              

Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya ingin memeluknya. Tidak mau melepas, takut dia pergi lagi.                         
‘’Ceritakan apa saja yang terjadi selama aku pergi. Apa ada bajingan yang menggodamu?’’Mas Sigit menatapku.              

''’Tidak ada Mas, cuma kamu yang bisa menggoda hatiku. Sampai detik ini cintaku masih utuh untuk prajurit gundul’’ candaku sambil mengelus kepala gundulnya.              

Hp-ku berbunyi, aku menghentikan pembicaraan. Telepon dari Ibuku, memberitahukan Melody dibawa ke rumah sakit karena demam tinggi. Aku bersama Mas Sigit bergegas ke rumah sakit. Mas Sigit bertanya siapa yang sakit, tidak sekalipun aku menjawab. Tiba di rumah sakit aku langsung menggendong Melody. Tangan kirinya diinfus, badannya lemas. Ku lihat Mas Sigit menatapku dengan wajah bingung. Tidak berkata sepatah katapun sampai Melody tidur.              

‘’Hatiku sakit, lebih sakit dari tembakan peluru. Aku tidak pernah menyangka hal itu terjadi selama aku pergi. Mana janji kamu!’’ suaranya lantang membentakku. Aku lihat air mata seorang tentara menetes dihadapanku.              

‘’Maafkan aku Mas, aku pantas kamu benci’’ aku menunduk, tidak sanggup lagi menatapnya.                ‘’Memang seharusnya aku membenci, tapi rasa sayangku untuk kamu melebihi rasa itu. Aku tidak akan membenci kamu. Tapi, aku harus memutuskan hubungan ini’’ ucapannya terhenti.              

‘’Aku tidak bisa terima Melody karena dia bukan anakku. Kita akhiri hubungan ini dengan baik-baik. Sayangi anak kamu sepenuh hati, jangan sia-siakan dia’’ Mas Sigit meneruskan ucapannya, kata-katanya membuat dadaku sesak. Harapanku untuk bahagia bersamanya lenyap seketika.              

‘’Tinggalkan aku Mas, pergilah jika kamu ingin meninggalkanku. Jangan bicara lagi, jangan buat hatiku semakin sakit karena keputusanmu’’ aku terisak.             

‘’Baiklah, jalani kehidupan kita masing-masing. Semua tentang kita akan aku simpan selamanya di dalam hati. Satu hal yang harus kamu ingat, sesakit apapun penghianatan ini tidak akan merubah perasaanku. Aku mencintaimu selamanya, meskipun tidak memiliki’’ Mas Sigit berlalu meninggalkanku yang masih terisak.              

Ini akhir dari penantianku. Ternyata aku dan Mas Sigit memang ditakdirkan untuk berpisah. Prajurit yang gagah di medan perang akhirnya menyerah melepas cintanya. Selama ini aku berpikir bisa gila jika harus kehilangan dia. Tapi ternyata tidak, Tuhan memberiku obat penawarnya yaitu Melody. Dia obat penawar atas takdirku. Obat penghilang rasa sakit saat aku dicampakkan oleh Roy. Obat untuk membuatku tegar saat Mas Sigit memtuskan untuk meninggalkanku. Terima kasih peri kecilku.             

Sejak hari itu aku tidak pernah lagi mengetahui kabar Mas Sigit. Terakhir yang ku dengar dia kembali mencalonkan diri menjadi pasukan militer ke Lebanon. Jiwa dan raganya dibaktikan pada negara. Doa tidak pernah ku ucapkan tapi telah kupanjatkan. Semoga tiap langkahnya selalu dilindungi oleh Sang pemilik alam. Berbahagialah meski tanpa aku di sisimu. Masih ada satu harapan di hatiku, aku ingin hidup untuk kedua kalinya supaya dikehidupan yang baru aku bisa bertemu lagi dengan Mas Sigit dan hidup bersamanya. Amin. (Vita Net)

1 comments:

DOMINO206.COM June 17, 2017 at 5:55 PM  

http://beritadomino2o6.blogspot.com/2017/06/khusus-pria-nah-ini-dia-6-titik.html

http://jutawandomino206.blogspot.com/2017/06/heboh-ikan-oarfish-terdampar-di.html

http://marimenujudomino206.blogspot.com/2017/06/terbukti-setubuhi-anak-di-bawah-umur.html

http://detik206.blogspot.com/2017/05/pesan-psk-yang-diinginkan-lewat-online.html


HALLO TEMAN-TEMAN DAFTARKAN SEGERA DIDOMINO206.COM JUDI ONLINE TEPERCAYA & AMAN 100% !

SANGAT MUDAH MERAIH KEMENANGAN TUNGGU APALAGI AYO BURUAN DAFTARKAN TEMAN-TEMAN^_^

UNTUK PIN BBM KAMI : 2BE3D683

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP