Doa Natal

Bre Redana (24 Desember 2006)

Natal akan segera tiba. Dada kami berbuncah-buncah dipenuhi kegembiraan. Pada Natal nanti, kakakku yang tinggal di Jakarta beserta istri, anak-anak, bahkan Mama yang tinggal di Bogor akan datang mengunjungi kami. Mereka akan natalan di sini.

“Mereka akan tinggal di sini?” tanya Pur, istriku.

“Ya pasti tidak, mereka akan tinggal di Indraprasta,” kataku menyebut nama hotel berbintang di ibu kota kabupaten.

“Ooo… ,” sambut Pur. Ia agak kecewa, tetapi kekecewaan itu sangat kecil, tak ada artinya dibanding kegembiraan, karena kesempatan bisa berkumpul bersama seluruh keluarga untuk bernatalan. Lebih istimewa lagi, itu akan berlangsung di sini, di rumah kami di pelosok.

Sangat jarang kakakku— kami hanya dua bersaudara, laki-laki semua— mengunjungi kami. Ia memang sibuk. Dulu ia kemari, ketika mampir karena ada tugas. Istri dan anak-anaknya belum pernah diajak kemari. Kami maklum, tempat tinggal kami terlalu di pelosok, daerah yang dulu dirintis transmigran.

“Tapi nanti mereka akan tetap ke gereja sini, kan?” Pur bertanya penuh harap.

“Tentu, rencananya begitu. Idenya memang dia sekaligus ingin mengenalkan istri dan anak-anaknya pada kehidupan di desa seperti kita. Ia ingin membawa mereka pada pengalaman, natalan di gereja kecil di daerah pelosok seperti sering aku ceritakan padanya. Mungkin nanti setelah dari gereja, kita siapkan makan pagi di rumah kita. Kita masak ala kampung, pasti mereka senang.”

Begitulah memang kehidupan kami. Yang masih sering datang mengunjungi kami adalah teman-teman berteater di kota tempat aku kuliah dulu. Terdamparnya aku di daerah pedalaman ini juga karena berteater itu. Pada waktu itu, ketika situasi politik makin sulit, oleh “suhu” diputuskan, kegiatan kesenian tidak harus di panggung.
Berkesenian adalah mengolah kehidupan. Para anggota pun kemudian berpencar. Aku bersama sejumlah teman menuju pulau ini, masuk ke pedalaman yang sebelumnya pernah dirintis oleh para transmigran dari Jawa, dan mulai belajar ikut bertani di situ.


Pada perkembangannya, tak semua dari kami terus tinggal di sini. Dengan alasan masing-masing, teman-teman satu per satu mulai cabut, pulang kembali ke Jawa. Beberapa di antaranya tetap berkesenian, bahkan ada yang kulihat sering muncul di sinetron televisi.
Itulah perjalanan anak-anak teater ini. Aku sendiri tetap bertahan di sini. Mungkin karena alasan, bahwa kemudian aku mengawini wanita setempat, ya si Pur ini. Kalau kurefleksikan hidupku, aku mendapatkan apa yang kumau di sini. Apa yang kumau itu?
Otoritas individu! Aku hidup sebagai manusia merdeka, punya otonomi atas diri sendiri. Pur, meski hanya lulusan SD, bisa mengimbangi hidupku. Aku ajak dia mengolah kehidupan. Ia bisa berjualan apa saja, termasuk membikin jajanan yang dijual di sekolah tak jauh dari rumah kami. Aku sendiri membuka taman bacaan di rumah. Selain sesekali melatih teater atau bahkan silat di rumah yang setengahnya kujadikan sanggar, aku juga mengajar ekstrakurikuler kesenian di beberapa sekolah di kabupaten.
Setiap kali ke daerah ini, teman-teman pasti mampir. Mereka itu, selain yang sudah jadi pemain sinetron seperti kuceritakan di atas, ada yang jadi wartawan dari koran terkemuka, jadi dosen, bekerja di perusahaan periklanan asing menjadi creative director, menjadi pengusaha kafe, dan lain-lain. Akan kelihatan kegembiraan dan kebanggaan Pur, kalau teman-teman yang kusebut itu datang. Tak jarang mereka
menginap di tempat kami.
Sekarang, kami menantikan sebuah hari yang benar-benar besar: Natal, kakak sekeluarga, dan Mama.

*

Dua hari sebelum Natal, mereka benar-benar tiba. Sebelum mereka sampai rumah, beberapa tetangga sudah ada yang berlari-lari ke rumah kami, memberi tahu ada mobil bagus datang. Aku tertawa. Beginilah kampung kami.
Aku dan Pur keluar rumah. Mobil kakakku datang, berjalan pelan, diikuti anak-anak kecil yang berlari-lari kecil dengan tawa gembira. Kaca mobil dibuka. Kelihatan kepala anak-anak kakakku menyembul keluar, barangkali keheranan melihat anak-anak yang berlari-lari mengejar mobil.

Kakakku yang pertama turun. Kami berpelukan hangat. Kemudian Mama. Dia menciumiku, sebelum memeluk dan menciumi Pur. Aku tahu, dia sangat mencintai Pur. Pipi Pur dicubitnya.
“Aduh, cantiknya… ,” ucap Mama. “Kulit kamu juga bagus, sampai seperti pualam,”
lanjut Mama sambil mengamati Pur dari atas sampai bawah, mengomentari kulit Pur yang putih (terus terang, kulit Pur yang bersih, berikut perawakannya yang bahenol itulah yang memikatku, yang juga terus-terusan membangkitkan birahiku… ).
Pur tertawa senang. Senyumnya mengembang, menampakkan lesung di kedua sudut bibirnya.

“Lihat, cantiknya dia… ,” kata Mama kepada Liza, istri kakakku. “Udara bersih membikin kalian sehat,” lanjutnya.


Liza mendekat, menyalami dan mencium Pur.
Beberapa tetangga yang ikut merubung aku kenalkan satu per satu, sebelum kami masuk rumah.

“Dulu rencananya kami akan natalan di Singapura… ,” kata Liza ketika kami sudah duduk-duduk di dalam rumah.

Aku tertawa. “Kalau ke Singapura kan sudah sering, yang begini kan jarang ya Tya… ,” sambutku sembari mendekap keponakanku, anak mereka yang paling kecil, Natya. “Tya sekarang kelas berapa? Nol besar ya?”

“Dia juara lomba piano,” iparku Liza memotong. “Harusnya dia mempersiapkan diri untuk lomba tingkat nasional, tapi apa boleh buat, harus ikut kemari… .”

“Waduh hebat. Kalau saja Paklik punya piano bisa latihan di sini… ,” kataku melucu, membuat Mama, kakakku, Pur, semua tertawa. Mana mungkin ada piano di pelosok Bandarjo ini… . Mereka juga suka, dengan panggilan Paklik-Bulik untuk diriku dan Pur ini, yang dulu dimulai untuk lucu- lucuan— sebelumnya mereka hendak memanggil Oom dan Tante— dan kemudian menjadi sebutan tetap untuk kami berdua. “Lain kali mainkan untuk Bulik Pur, Bach, biar Bulik tidak hanya mengenal Didi Kempot… ,” lanjutku disambut tawa makin ramai.
Kehangatan sore itu tak berlangsung lama.
“Pa, kita harus segera kembali ke hotel. Bukankah nanti Mathias teman Papa itu dan istrinya akan datang… ,” Liza mengingatkan kakakku.

“Ya, tapi masih nanti malam… ,” jawab kakakku.

“Tapi anak-anak kan harus mandi segala dulu. Kita akan makan malam bersama mereka kan… ,” kata Liza.

Mama sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama, tapi aku tidak punya kendaraan untuk bisa menyusulkan Mama ke hotel nanti malam. Akhirnya mereka semua kembali ke hotel. Aku, Pur, beberapa tetangga, mengiringkan sampai mobil bergerak meninggalkan kami.

*

Di malam Natal Pur sibuk di dapur. Ia menyiapkan menu andalannya: ayam bumbu rujak. Ayamnya ayam kampung, dengan kelapa yang sangat tua yang sudah disiapkan berhari-hari. Sebelum ini, dia telah menyiapkan rempeyek kacang— andalannya yang lain. Aku gembira menemaninya di dapur sembari menyetel lagu-lagu Natal yang dibawakan dengan orkestra gamelan.
“Cocok kan, habis dari gereja, makan dengan ayam bumbu rujak dan rempeyek,”
celoteh Pur. “Sengaja kubuat tidak terlalu pedas, biar cocok dengan perut Jakarta.”

“Kita pakai beras merah kalau masih ada,” usulku.


“Ooh masih, dan memang sudah kusiapkan.”

Kami juga menyiapkan piring-piring dan cangkir-cangkir keramik yang tidak pernah kami pakai sehari-hari. Piring dan cangkir itu pemberian Adi, seniman keramik sahabat kami dulu. Pagi hari di gereja usai kebaktian kami bersalam-salaman dengan pendeta, anggotaanggota majelis, serta para jemaat. Kami sekeluarga— maksudku kakakku sekeluarga— menjadi perhatian para jemaat. Penampilan orang Jakarta rupanya lain, dibanding dengan kami di pelosok.

“Kita segera kembali ke hotel… ,” Liza tiba-tiba menyelak. “Lama-lama panas nih… ,” ucapnya.

Kulihat Mama menoleh seketika.

“Loh, kita ke rumah Pur dulu. Pur sudah menyiapkan makan,” kata Mama.

Kami segera meninggalkan halaman gereja menuju rumah. Para jemaat berjalan berendeng-rendeng gembira. Aku dan Pur biasanya seperti mereka. Kali ini, aku dan Pur ikut menumpang mobil kakakku— model minibus yang kuakui nyaman dan mewah.

Tiba di rumah segera Pur menyiapkan makan pagi yang sudah dia persiapkan sejak tadi malam. Aku membantunya biar cepat, karena iparku Liza kelihatannya sudah tidak betah. Siapa tahu dia ingin segera kembali ke hotel.
Ternyata hampir semuanya tampak menikmati makan pagi ala Pur, ala Bandarjo ini.
“Kalau di Jakarta kamu buka restoran seperti ini bisa laris Pur,” komentar Mama.
Kakakku sibuk dengan ayam bumbu rujak, dengan setiap saat berucap “hemmm… ”
untuk menyatakan betapa enak masakannya. Hanya Liza yang kulihat tak terlalu
menikmati. Aku berpikir, dia mungkin diet untuk menjaga kelangsingan. Anak-anak tak henti-henti makan rempeyek.
“Habiskan saja, Bulik memang bikin untuk kalian… ,” kata Pur tertawa senang. Liza melirik anak-anaknya.
“Tya, jangan banyak-banyak, nanti kamu batuk!” kata Liza memperingatkan anaknya. “Ah ya biar, sekali-sekali,” Mama memotong.
“Tapi kan ada acara brunch di hotel nanti… ,” kata Liza entah ditujukan kepada siapa. “Ya, itu nanti, kita makan lagi,” potong kakakku.
“Nanti gantian, Paklik dan Bulik yang kalian traktir di sana,” kataku, karena rencananya kami akan diajak ke hotel siang itu.

Habis makan, kami segera berangkat ke kota, ke hotel tempat kakakku sekeluarga menginap.

*

BRUNCH maksudnya breakfast dan lunch alias makan pagi dan siang digabung jadi satu. Aku menerangkan itu pada Pur. “Atau lebih tepat lagi, makan pagi yang kesiangan… ,” tambahku sambil tertawa.

Duduk mengitari meja yang tertata rapi, keponakan-keponakanku semua enggan memesan makanan. Mereka sudah kenyang. Begitu pula kakakku, dia sibuk mencaricari yang disebutnya light meal.

“Apa saya makan pasta saja ya? Paklik Bulik saja yang makan, kami menemani,” kata kakakku menyebut kami “Paklik-Bulik” untuk membahasakan anak-anaknya. “Kalian makan steak ya? Oke, saya pesankan steak untuk kalian. Tenderloin enak… Mama apa?” tanyanya pada istrinya.

“Apa saja, terserah… ,” jawab Liza.

“Tenderloin sekalian ya,” kakakku memutuskan.

Mama memimpin doa lagi seperti di rumah tadi sebelum makan dimulai.

Aku dan Pur gembira menikmati menu pesanan kakakku ini. Kadang aku membantu Pur, bagaimana mengiris daging secara tepat. Kupegang dua tangan Pur baik yang memegangi garpu maupun pisau.
“Garpu dipegang lebih stabil. Yang pegang pisau yang bergerak, lembut saja geraknya, dan yang bergerak pergelangan tangan, nah… ,” kataku seperti memberi kursus.

Pur tertawa-tawa gembira. Begitu pula Mama.

“Dagingnya keras, seperti sandal japit,” tiba-tiba Liza berujar.
Mama terdiam seketika. Aku sangat mengenal bahasa tubuh Mama. Dia marah.
“Maklumlah, sapi sini kebanyakan olahraga jalan-jalan, jadi ototnya kuat, beda dengan sapi Australia yang malas-malasan… ,” aku melucu untuk mencairkan suasana.
Semua tertawa lagi— kecuali Mama (dan Liza). Pur tetap gembira.
*
Acara Natal bersama keluarga itu kukenang, terutama pesan Mama untuk kami, anakanak dan cucunya (cucu di sini maksudnya anak-anak kakakku. Aku dan Pur belum dikaruniai anak). “Pesan Mama cuma satu, supaya kalian semua rukun… ,” kata Mama di depan kami semua waktu itu.
Saat itu, ketika mereka semua akan meninggalkan daerah kami, sambil menciumku Mama masih membisikkan sesuatu lagi di telingaku. “Kamu dan Pur jangan tersinggung dengan sikap Liza ya. Sejatinya dia itu ajaib, kita harus sabar mendidik, dan jangan lupa pula mendoakannya… ,” bisik Mama.


Hampir aku tertawa mendengar bisikan Mama, yang memang kadang memberi cap pada orang seenaknya. Kutahan tawaku, takut ketahuan apa yang diucapkan Mama, dengan sebutan yang tak kalah “ajaib”-nya itu.

Dengan atau tanpa pesan Mama, doa memang dikhususkan untuk kebaikan semesta. Untuk keluarga, aku dan Pur selalu mendoakan, yang terbaik bagi mereka semua. Semoga kakakku, Liza, anak-anaknya, semua kerabat dan handai taulan, mendapat yang serba terbaik di Jakarta.

Banjarsari, Ciawi, 2006

0 comments:

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP