Cinta Dalam Doa

Aku berdiri menatap sudut kamar. Memandang fotomu yang terpajang rapi dalam bingkai. Sudah enam bulan kamu menghilang seperti tertelan bumi. Tidak ada satupun kerabatmu yang bisa ku hubungi. Akun facebook sepertinya sengaja kamu hapus. Kamu membuatku hampir gila, memberikan harapan indah lalu meninggalkanku layaknya sesuatu yang tidak bermakna.

Aku mohon Bima, temui aku. Jika hubungan kita harus berakhir tak apa. Tapi aku ingin mendengar alasan langsung dari mulutmu. Airmataku sudah habis untuk menangisi kehilanganmu yang tanpa jejak. Aku terlalu setia. Sampai saat ini hatiku tidak pernah terbagi. Tiap berganti hari aku selalu berharap ada kabar darimu.

Saat ini aku merasa sangat kesepian. Ayahku dirawat di rumah sakit untuk mengobati penyakit kanker paru-paru yang dideritanya. Mungkin jika ada kamu bebanku tidak akan terasa seberat ini. Bima, sungguh aku tidak sanggup menghadapi ini sendirian. Aku membutuhkanmu untuk tempatku berbagi. Ibuku meninggalkan ayahku untuk laki-laki lain. Apakah kamu juga begitu? Benarkah aku sudah tersingkir dari hatimu karena wanita lain.

Hari ini aku lulus dari pendidikan keperawatan. Aku sendiri merayakan kelulusanku tanpa ditemani orang-orang yang aku sayang. Kondisi ayahku terlalu lemah untuk menghadiri acara wisudaku. Ibuku entah dimana keberadaannya. Bima Prayoga yang telah menjadi kekasihku hampir tiga tahun juga lenyap dari hidupku. Terlalu sadis kenyataan yang harus aku terima.

"Jangan memikirkan Bima terus, belum tentu dia mikirin lo" hampir setiap hari Yeni berkata seperti itu.

"Gak bisa Yen, bantu gue cari Bima" wajahku memelas menatap Yeni.

"Cari dimana? kita gak punya tanda-tanda keberadaan Bima. Kenapa harus Bima yang lo cari? sementara nyokap lo dibiarkan menghilang tanpa kabar" Yeni terlihat acuh.

Aku berpikir seribu kali mendengar ucapan Yeni. Benar juga apa yang dia katakan. Seharusnya aku lebih mendahulukan mencari ibuku daripada Bima. Tapi, untuk apa mencari ibuku, seandainya bisa ku temui aku tetap tidak akan bisa membawanya kembali ke rumah karena dia sudah memiliki keluarga baru. Untuk apa juga susah payah mencari Bima jika akhirnya mungkin aku akan kecewa. Waktuku terlalu banyak tersita untuk mereka yang telah melupakanku. Lebih baik aku habiskan waktuku untuk bekerja mencari uang supaya bisa membayar biaya pengobatan ayahku yang tidak sedikit.

Bertahanlah ayah, berjuanglah melawan sakitmu. Cuma ayah yang aku miliki saat ini. Jangan tinggalkan aku seperti mereka. Tidak ada seorangpun yang bisa melawan takdir. Pada akhirnya ayahku dipanggil oleh Tuhan. Aku sebatang kara, berjuang hidup sendirian di Jakarta. Pamanku mengajakku pindah ke Makasar. Bekerja di rumah sakit di sana. Aku memutuskan untuk meninggalkan Jakarta. Yang paling berat bagiku adalah meninggalkan kenangan di rumah yang bertahun-tahun aku tempati bersama orangtuaku.

"Jangan lupa sama gue, kalau ada waktu usahakan datang ke Jakarta" Yeni memelukku.

"Tenang aja, kalau ada waktu gue pasti main ke Jakarta" aku menarik koper sambil melambaikan tangan.
Aku merasa nyaman tinggal di Makasar. Di sini aku memiliki keluarga baru. Tidak lagi merasa kesepian. Gajiku sebagai perawat cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Hidup itu indah jika kita mensyukurinya. Lebih dari setahun aku kehilangan Bima. Tapi saat ini aku dibuat tidak berdaya dengan apa yang ada di depanku. Nyawaku seperti ditarik paksa. Dihadapanku terbaring sosok yang tidak lagi berdaya. Pasien penderita HIV AIDS yang harus kurawat ternyata adalah Bima. Inilah jawaban dari penantianku.

"Bima, benarkah ini kamu?" aku menghampirinya dengan langkah gemetar.

"Stop! Jangan dekati aku, tubuhku penuh dengan virus" Bima menolak untuk ku dekati.

"Bima, kenapa kamu bisa menjadi seperti ini? aku sangat menderita kehilanganmu, tapi melihat keadaanmu sekarang membuatku lebih tersiksa" aku terisak di samping tempat tidur Bima.

"Pergi! Jangan sentuh aku, nanti kamu bisa tertular" Bima meringkuk ketakutan.

"Jangan takut Bima, tertularpun aku mau supaya aku juga bisa merasakan sakitmu" aku memeluk Bima.

"Jangan pergi lagi. Jangan menghilang lagi dari sisiku. Aku akan temani kamu melawan sakitmu" bisikku di telinga Bima. Tiap detik virus-virus itu menggerogoti tubuh Bima.
Mendengar suara rintihannya saat menahan sakit membuat hatiku tersayat dan berdarah. Apa yang dokter lakukan hanya untuk memperpanjang waktu hidupnya, bukan untuk menyembuhkan. Aku harus kembali pasrah pada takdir. Bersiap ketika maut harus merenggut kembali orang yang ku sayangi.

"Tuhan, bagi rasa sakit yang Bima rasakan padaku supaya dia tidak terlalu menderita" itu doaku tiap detik. Daya tahan tubuh Bima semakin menurun. Tak ada lagi kekuatan untuk menahan sakitnya. Akupun tidak lagi memiliki kekuatan untuk tetap tegar mendampingi Bima.

Satu tahun kemarin menghilangnya Bima sudah cukup membuatku menderita. Tidak rela jika harus kehilangan lagi. Bima meninggal dalam pelukanku. Pelukan terakhirku untuknya. Selesai pemakaman Bima, aku membaca isi buku yang selalu Bima genggam tiap saat. Buku yang selalu dirahasiakan isinya oleh Bima. Di lembar terakhirnya tertulis.Meskipun Tuhan tidak mengizinkanku hidup lebih lama, tapi aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk hidup dalam cintaku.

Anggun, kamu menjadi obat untuk penyakit yang tidak ada obatnya ini. Jika tiba saatnya aku harus kembali pada sang pencipta, mohon ikhlaskanlah. Sesungguhnya aku tetap hidup dalam hatimu. Jika kamu rindu, kirimkan rindumu lewat doa. Cinta yang aku miliki adalah cinta abadi untukmu. Aku bisa menjaganya hingga nafas terakhirku. "aku ikhlas Bima, istirahatkanlah tubuhmu dengan tenang di sisi sang maha penjaga. Lepaskan semua rasa sakitmu. Cintaku tak akan putus dalam doa" airmataku menetes di sela buku harian itu. Perpisahan bukanlah kehilangan. Hanya batas tipis antara kisah dan kenangan. Semoga kita bisa bersama lagi dalam episode kehidupan yang lain. I love you Bima. (Vita Net)

0 comments:

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP