Wening

Yanusa Nugroho (14 Mei 2006)

Diangkatnya lengannya perlahan-lahan. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. Pergelangan tangan itu ngukel1, lalu telunjuknya menjentik. Dia tersenyum. Keindahan memang tak bisa diam, selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. Sekali lagi dia tersenyum, sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok.

Dibayangkannya, nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang, yang oleh Mas Ondi— penata busana, akan diberi untaian melati. Jadi, nantinya, di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah, tetapi menebarkan harum yang samar- samar. Ah, di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi.Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini, tentu akan lain ceritanya.

Waktu terlipat oleh kecepatan, entah siapa yang menjadi biang keladinya. Semua tibatiba saja menggumpal di kenangannya. Dia berada di tandu, yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. Berdiri luka, duduk luka. Memilih “ya” dia akan melukai jiwanya, menolak untuk “ya” pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. Tetapi, siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri?

Read more...

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP